Pitter-Patter

GeneralInformation
Full NameDarrel Maveryke
Nick(s)Darrel
Age24
Date of Birth6 September
Place of BirthLondon
GenderMale
RaceHuman
SexualityPansexual
Current ResidentLondon, England
Height184 cm
Weight67 kg
Hair ColourBlack
OccupationsEx-Hitman
-Businessman

“Rembulan menari bersama bintang di malam ketika kamu lahir.”


Malam itu langit di Kota London berhamburan bintang, gemerlap cahaya menambah kebahagiaan siapapun yang melihatnya. Bersamaan dengan malam yang hangat itu, lahir seorang bayi laki-laki di sebuah keluarga kecil, keluarga Maveryke. Bayi laki-laki itu di beri nama Darrel, sebagai bentuk cinta kasih kedua orang tuanya.

Keluarga Maveryke bisa dikatakan mapan secara finansial. Jadi, Darrel merasa tidak kekurangan apapun dalam hidupnya. Kedua orang tua yang lengkap dan senantiasa hadir untuk membagi suka duka, pun seorang kakak perempuan yang sangat menyayangi Darrel menambah kesempurnaan dalam hidupnya.

Namun kebahagiaan keberadaannya hanya sementara, semua berakhir ketika insiden hari itu terjadi. Kehangatan, kebahagiaan serta canda tawa semuanya sirna seketika.

“Tak ada yang tahu, seberapa banyak aku menangis pada hari itu.”


Ternyata tidak ada yang namanya kebahagiaan abadi. Kehidupan yang tentram, kebahagiaan yang tak terbatas semua sudah direnggut oleh insiden hari itu. Tragedi berawal ketika ayahanda – Arley Maveryke menaruh cinta pada wanita lain selain istrinya. Entah apa yang membuat dia begitu menginginkan wanita jalang itu. Padahal selama ini Jesslyn – Ibunda Darrel selalu memenuhi perannya sebagai istri yang baik.

Arley jarang pulang ke rumah dengan urusan perusahaan sebagai alasannya. Perilaku Arley semakin menjadi, hingga pada akhirnya Jesslyn memergoki Arley tengah bercinta dengan wanita jalang itu di sebuah kamar hotel yang kebetulan adalah hotel yang sama dengan tempat menginap Jesslyn saat itu. Namun Jesslyn tidak langsung melabrak mereka begitu saja, sebagai istri yang baik Jesslyn berpikir itu hanya dapat menurunkan martabat keluarganya. Sehingga ia berniat untuk menyelesaikannya di rumah dengan kepala dingin.

Setibanya Arley di rumah, Jesslyn membeberkan semua kebusukan suaminya itu. Siapa sangka niat awal menyelesaikan dengan kepala dingin justru berakhir dengan pertumpahan darah. Darrel yang kala itu masih anak-anak mendengar suara dentuman senjata api, membuatnya refleks berlari menuju sumber suara. Pintu kamar terbuka, darah segar mengalir dari jantung sang ibunda tercinta. Netranya dapat melihat jelas siluet pembunuhnya yang tak lain adalah figur ayahanda. Tenggorokan tercekat, sesak menggerayangi dada mendapati pemandangan yang terpampang di hadapan.


Tungkai melangkah dengan cepat mengambil senjata api yang sudah ternodai karena menembak orang yang dicintainya. Di dalamnya mungkin masih ada peluru yang tersisa, dengan sembarang Darrel membidik Arley menggunakan senjata api tersebut. Pelatuk ditarik, menyarang tepat pada jantung ayahanda. Darrel membunuh ayahnya, naas memang. Kini Darrel hidup dengan sebuah lubang di sudut hati.

“Aku pergi menuju kegelapan sendirian, jadi maaf jika aku bertindak seperti tak membutuhkan siapapun.”


Semenjak insiden itu Darrel hidup dalam bayang-bayang kegelapan, bekerja sebagai pembunuh bayaran dengan anggapan terlanjur menjadi pendosa. Menerima berbagai macam permintaan klien untuk melakukan tindakan penghilangan nyawa dengan motif tertentu, kini tangan sudah kotor. Tapi siapa yang peduli? Darrel menikmati pekerjaan ini. Melakoni peran ini selama bertahun-tahun, hingga menjadi seorang yang profesional.

Dalam kegelapan, apakah lubang di hati bisa terisi? Darrel terus mencari jawaban atas pertanyaan itu. Bertahun-tahun melakoni pekerjaan kotor demi mengetahui hal itu. Hingga suatu hari seseorang menumpahkan cahaya di depan matanya. Orang itu memberi tahu bahwa Darrel tak mungkin bisa mengisi lubang itu dengan berjalan dibalik bayang kegelapan. Katanya, seorang pendosa pun berhak melakukan kebaikan. Darrel dapat mengingat dengan jelas paras yang dapat meluluhkan hatinya itu. Hingga akhirnya, Darrel berhasil keluar dari kegelapan.

“Hari ini ku tutup pintu hitam itu, membuka pintu putih yang kau tunjukkan. Menghela nafas dalam dan melangkah menuju babak baru kehidupanku.”


Beberapa bulan Darrel bak ditelan bumi, menghilang dan tak diketahui keberadaannya. Alasan satu-satunya adalah karena berpikir keras bagaiamana cara untuk menempuh kehidupan yang lebih baik. Saat itu Darrel teringat ayahnya, pernah beberapa kali memperhatikan cara ayah bekerja. Yah, meskipun masih sulit menghilangkan kebencian, namun kali ini Darrel merasa beruntung karena setidaknya ia memiliki kemampuan awal untuk membangun sebuah bisnis.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan terlewati. Darrel sudah memiliki modal yang cukup untuk membangun sebuah Hotel & Resort. Entah itu dalam bentuk pengetahuan, finansial, maupun konsep. Dalam waktu beberapa bulan saja bisnis Darrel sudah berhasil dibentuk. Memberi nama dengan The Greenwoods. Sebuah hotel dan resort berbintang lima yang akhirnya menjadi destinasi utama bagi orang yang datang ke kota London.

Sudah berhasil membenahi hidupnya, namun nampak masih ada sesuatu yang kurang. Bertemu dengan kakaknya, setelah mengumpulkan nyali akhirnya Darrel kembali menjejakkan kaki di rumah yang menyimpan memori bagi dirinya.

KEPRIBADIAN

"I changed my thinking. It change my life."


Mulanya Darrel adalah pribadi yang ceria dan bersemangat, memiliki kreatifitas yang tinggi dan kemampuan intelegensi yang dapat di andalkan. Karena alasan itu, saat insiden pembunuhan terjadi Darrel langsung bisa mengenakan senjata api tanpa pernah berlatih sebelumnya. Namun, selepas insiden pembunuhan terjadi, Darrel berubah menjadi sosok yang tak banyak bicara dan dingin. Sikapnya nampak seperti seseorang yang tak memiliki hati. Namun, hal itu juga tak sepenuhnya salah, Darrel memang memiliki sebuah lubang di hati.

Siapa sangka, seseorang bisa merubah kepribadiannya yang dingin dan nampak tak berhati. Selepas dari kegelapan yang menjejali diri bertahun-tahun, Darrel bisa lebih ramah pada orang lain. Namun, sikap tenangnya sudah mendarah daging sehingga ketenangan itu senantiasa membersamai Darrel. Meski begitu, terkadang Darrel bisa bersikap hangat pada kakak perempuan maupun orang-orang pilihannya.

PENAMPILAN

"I don't really care."

Di masa lalunya sebagai pembunuh bayaran, Darrel kerap kali mengenakan celana formal, kemeja dan jas, terkadang di tambah sebuah mantel panjang di bagian terluarnya. Tapi kebiasaan itu berubah semejak ia mengakhiri posisinya sebagai pendosa. Saat ini, Darrel lebih nyaman mengenakan pakaian santai dan mengenakan pakaian formal hanya pada momen-momen resmi saja.


"Be mindful of being present. Be present. Be persistent.

Will be add soon.